Selasa, 13 September 2011

HAJI YANG HAJI

Tanggalkan pakaian budayamu
maka mulailah Ihrammu,
dalam Ihram ini,
engkau tak beda dengan engkau yang lain
aku tak beda dengan aku yang lain,
setiap engkau adalah engkau
setiap aku adalah aku,
engkau adalah aku
aku adalah engkau,
diperjalanan menyatu tujuan
diperjalanan menyatu aku-engkau, engkau-aku.
Maka berhajilah dahulu,
sebelum engkau pergi ke Mekkah
karena hajimu adalah Arafah-mu,
Arafah-mu adalah makrifatmu dengan Tuhanmu,
maka kenalilah Wukuf-mu, sebelum engkau Wukuf di Arafah
maka kenalilah Thowaf-mu, sebelum engkau Thawaf di Kabah
maka kenalilah Syai-mu, sebelum engkau Syai di Safa-Marwa.
Jangan berhaji masih di masa jahiliyyah
engkau berhaji, tapi engkau memberhalakannya,
kenalilah dulu tajalli Adam-mu pada dirimu,
maka engkau akan tahu hakikat hajimu.
Berhajilah setelah engkau tahu
berhajilah setelah engkau kenal,
maka haji ini adalah haji yang haji
maka haji yang haji adalah haji diri-mu.


Senin, 05 September 2011

YANG NYATA MENYATA

Aku adalah Muhammad
yang menjadi sifat,
sifatku adalah Siddiq
sifatku adalah Amanah
sifatku adalah Tabligh
sifatku adalah Fathonah,
pada Siddiq, aku tanazul
pada Siddiq, aku taroqi
yang menyata pada Fathonahku
yang menyata pada diriku,
Siddiq ada di hatiku
Amanah ada di akalku
Tabligh ada di nafsuku
Fathonah ada di lakuku,
maka aku jadi Muhammad
karena punya sifat yang empat,
Muhammad adalah sifatku
sifatku adalah Muhammad.
Menyata ia pada diriku,
seperti menyata yang bathin pada yang zohir,
maka ku jalani perjalanan ini
maka ku lalui laluan ini,
biar nyata, yang nyata
biar nyata, diriku yang nyata.



Selasa, 30 Agustus 2011

FITRAH YANG FITRAH

Seperti pergi dan kembali,
fitrah selalu diingat
dalam kealfaan diri
dalam kesucian diri,
demikian diri selalu mengulang,
demikian diri selalu mengabaikan.
Fitrah yang bergerak, fitrah yang pergi
fitrah yang diam, fitrah yang kembali,
dalam diri yang bersyukur
dalam diri yang teruji,
dimana ruang, disetiap waktu.
pada diri yang bersyahadat
pada diri yang mengenal dirinya,
fitrah tak pernah pergi
fitrah tak pernah kembali,
karena fitrah menyatakan pada dirinya
karena diri menyatakan pada fitrahnya.
Fitrah yang fitrah,
hanya bagi diri yang tahu kefitrahan
suci yang suci,
hanya bagi diri yang mengenal kesucian,
jadilah fitrah menjadi diri
jadilah diri menjadi fitrah.
Dalam hakikat diri
dalam diri sejati,
maka fitrahku adalah diriku
maka diriku adalah fitrahku,
karena fitrahku menyatakan diriku
karena diriku menyatakan fitrahku.
Seperti satu yang satu,
fitrah selalu menyatu
fitrah tak pernah bersekutu
dalam diri yang zohir
dalam diri yang batin.


Senin, 29 Agustus 2011

ZAKAT YANG BERZAKAT

Yang memberi dan yang menerima
adalah satu jua pada hakikatnya,
maka zakat adalah suci yang mensucikan
yang lahir pada hartaku
yang batin pada jiwaku.
Zakat adalah haq
yang menyatu pada hakikatku
yang menyatu pada rasaku,
meleburkan pilihan
meleburkan pemilahan,
yang kaya yang miskin
yang miskin yang kaya,
maka zakat menyata pada mustahiqku
maka zakat menyata pada diriku.
Seperti rumah untuk berbagi
seperti rumah untuk berteduh,
zakat adalah nikmat yang tersaji
zakat adalah jalan yang peduli,
di rumah kearifan ini
di rumah keramaian ini.
Demikian zakat mengungkap makna
demikian zakat mengungkap diri,
zakat adalah lahirku
zakat adalah batinku,
menjadi yang kaya yang miskin
menjadi yang miskin yang kaya.
zakat menyatukan hartaku-hartamu
zakat menyatukan hartamu-hartaku,
karena yang haq menyatakan diriku
karena yang haq menyatakan dirimu
dalam narasi kekayaan
dalam narasi kemiskinan,
jadilah zakatNya dalam yang berzakat
jadilah yang berzakat dalam zakatNya.



Minggu, 28 Agustus 2011

BACA YANG DIBACA

Pada titik simpul ini,
aku membaca
di malam seribu bulan
menelusuri ayat-ayat yang lima
penanda di awal kehadiran Qur'an,
bacalah tentang asal kejadian insan
bacalah tentang pengetahuan-Nya,
membaca dalil
mengenal sejatinya diri.
Pada titik menemukan diri
pada titik menunjukan dalil,
bacalah angka 5 pada ayat yang lima;
yang menandai asal anasir dan pancer diri,
bacalah angka 17 pada Nuzul Qur'an;
yang melintasi tujuh martabat nafsu pada diri
yang melintasi tujuh martabat alam kejadian pada diri,
untuk mengenal hakikat yang satu.
maka aku menemukan diri yang terdiri
maka aku menemukan jalan mendaki,
sejatinya aku yang menyatu
sejatinya aku yang kembali.
Seperti Kepompomg,
aku melaluinya
untuk terbang menjadi kupu-kupu,
terbang bebas
terbang merdeka,
kini aku bebas
kini aku merdeka.


Selasa, 16 Agustus 2011

PUASA YANG BERPUASA

Yang terungkap dalam puasa
bahwa tubuh bisa lapar-bisa haus
menjadi wahana mendaki
untuk menggapai Tuhanmu,
maka puasa pun menjadi rasa
maka puasa pun menjadi nyata,
saat yang lapar menjadi yang tidak lapar
saat yang haus menjadi yang tidak haus.
Sempurnalah puasamu
hilang rasa
hilang terasa,
menjadi dirimu
menjadi laparmu
menjadi hausmu,
inilah sirna dalam fanamu
inilah ada dalam penggapaianmu,
puasapun menjadi langgeng
melintas Ramadhan-mu
puasapun menjadi ada
melintas dirimu yang tiada,
ada puasa, meskipun tanpa Ramadhan-mu
ada puasa, meskipun tanpa dirimu,
inilah puasa yang tidak lapar
inilah puasa yang tidak haus,
hanya bagi dirimu yang mengenal dirimu
hanya bagi dirimu yang mengenal Tuhanmu,
maka puasa ini menjadi hak-mu
maka puasa ini menjadi nyata bagimu.
Terimalah adanya menjadi dirimu
terimalah adanya menjadi tiadamu,
puasamu menjadi syariat-mu
puasamu menjadi hakikat-mu,
nyatalah pada dirimu
nyatalah pada puasamu,
lebur menjadi satu
sembunyi pada yang satu,
maka puasamu adalah satumu
maka satumu adalah puasamu.
Bukan engkau yang berpuasa,
tapi Akulah yang berpuasa,
karena Akulah yang tidak pernah lapar
karena Akulah yang tidak pernah haus,
menjadi nyata pada dirimu
menjadi bukti pada dirimu,
tentang yang ada, satu jua adanya.



Rabu, 03 Agustus 2011

SHOLAT DAIM

Diam adalah daim-mu dalam sholat
karena makrifat menjadi sahnya syarat,
maka nyatalah dirimu yang sholat
hilang rasa
hilang raga terasa,
tiada yang sholat, kecuali Aku yang sholat.
Maka menjadi maklum-mu,
jika diam ini yang terjadi,
karena yang tiada menjadi ada,
karena rupamu yang sholat
dalam diammu tanpa waktu,
dalam gerakmu yang tak ber-rakaat.
Berkekalanmu dalam sholatmu
sholatmu dalam berkekalanmu,
tiada rupa, tiada bentuk
dalam nyata,
tiada hati, tiada lisan
dalam syarat,
menjadi lebur
menjadi satu
dalam hakikat sholatmu,
karena menjadi abadi dalam sholatmu
karena sholatmu menjadi abadi.
Tiada engkau yang sholat, karena akulah yang sholat
tiada aku yang sholat, karena engkaulah yang sholat,
maka sholatlah daim-mu
dalam kekekalan baqo-mu.